Sebuah sifat, sebuah hal mendasar seseorang untuk berperilaku dalam menjalani hari-hari hidupnya. Bagiku, sifat yang paling dekat dengan kehidupanku adalah perfectnionist! Seorang itu tidak mungkin sempurna. Allah pun menciptakan manusia sarat akan keterbatasan guna menjalin kerjasama dan bersosialisasi dengan sesama. Menyakini bahwa tak ada sebuah kesempurnaan dari seorang manusia dalam diriku adalah mutlak. Pembelaan paling masuk akal bagi seorang Perfectionist adalah hanya ingin berbuat sebaik mungkin. Serapi mungkin. Sesempurna mungkin!
Klise memang. Di hati seorang perfectionist terpatri sebuah hal terpuji (kalau bisa dan masih dianggap terpuji) dengan berusaha meraih tujuan-tujuan yang tinggi atau bekerja keras untuk mendapatkan yang terbaik. Bukan berarti berusaha dengan ambisi yang menggebu. Atau arogansi yang menyala bak api. Bahkan jauh dari kata mendikte!
Sepanjang hidup pernah melakukan bahwa hal-hal berikut inilah yang sejatinya dilakukan oleh seorang perfectionist.
1.Terlalu berlebihan dalam memberikan komitmen.
2.Jarang mendelegasikan tugas kepada orang lain.
3.Susah sekali dalam mengambil keputusan.
4.Selalu merasa ingin memegang kendali.
5.Bersaing dengan sangat keras.
6.Selalu melakukan sesuatu pada menit-menit terakhir.
7.Terlalu mempermasalahkan hal-hal detail.
8.Sepertinya tidak pernah puas atas pekerjaan sendiri.
9.Selalu menyibukkan diri dengan sesuatu.
10.Seringkali menkritik orang lain.
11.Menolak untuk dikritik orang lain.
12.Lebih banyak menaruh perhatian pada hal yang negatif daripada hal positif.
13.Kerap kali memerikasa pekerjaan yang dilakukan oleh orang lain.
14.Menyebut diri sendiri “bodoh” saat mereka melakukan sesuatu secara tidak sempurna.
15.Suka menunda-nunda pekerjaan.

Merasakan sesuatu dari perjalanan hidup adalah hikmah untuk dapat memberikan sebuah harapan dengan bersyukur karena hati masih mampu merasa…

1.Sangat malu akan kesalahan yang pernah dilakukan.
2.Sangat mengkhawatirkan akan hal-hal yang detail.
3.Tidak senang jika kebiasaan rutinnya terganggu.
4.Gugup saat hal-hal di sekelilingnya tampak kacau.
5.Takut kelihatan bodoh dan tidak mampu.
6.Bersalah jika membuat orang lain kecewa.
Sepenggal hal kecil di atas merupakan sebuah titik kesadaran manusia perfectionist bahwa bukanlah hal bodoh jika mau menerima ketidaksempurnaan pada pribadi maupun sekeliling. Menerima dengan bijaksana bahwa itu bagian dari kehidupan. Bagaimana pun manusia memang makhluk sempurna namun bukan berarti HARUS memenuhi kesempurnaan di setiap lembar bab halaman kehidupan. Mencoba bersikap, berpikir, berperasaan dan bertindak secara realistis (mungkin) tidak akan membuat kehidupan seolah berlari dalam kilometer yang panjang…