Puasa kali ini berat buatku. Berat karena hawa dan cuacanya begitu menakjubkan. Panasnya yang kerap ku keluhkan. Perjalanan dari rumah ke kampus setiap hari di saat sore hari senantiasa membuatku berpikir tuk tidak ke kampus. Tapi ini belum seberapa. Sebagai manusia dengan logika, tak ada salah dan amat berguna jika kita cari mengapa panas bisa mencapai sepanas ini? Masya Allah… Mungkinkah akibat global warming?

Bumi berteriak kencang, “Save Our Soul, Please!” Hanya saja, sebagian kecil manusia yang mendengar rintihan tersebut. Ya, rintihan itu merupakan jerit hati yang disebabkan pemanasan global atau dalam bahasa inggris disebut global warming. Betapa tidak, bahaya global warming mengancam usia sang bumi. Ironisnya, ancaman tersebut meliputi keseluruhan aspek kehidupan di bumi.

Global warming yaitu kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan. Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), kemungkinan terbesar meningkatnya temperatur rata-rata bumi disebabkan meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia melalui efek rumah kaca.

Belahan bumi utara akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di bumi. Akibatnya, gunung-gunung es mencair dan berkurangnya luas daerah daratan. Daerah hangat akan lebih lembab karena banyak air yang menguap dari lautan. Belum lagi penguapan air yang akan membentuk awan sehingga memantulkan sinar matahari kembali ke angkasa luar.

Hal tersebut akan menurunkan proses pemanasan di bumi. Badai juga akan terjadi lebih sering. Beberapa daerah akan mengalami kekeringan lebih dibanding sebelumnya. Tiupan angin menjadi kian kencang. Dampak nyata pada pola cuaca tidak bisa diprediksi secara riil.

Menengok lebih jauh, mencairnya es Kutub Utara di sekitar Greenland merupakan efek menghangatnya atmosfer serta lapisan permukaan lautan. Volume pun membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut.

Kehidupan di daerah pantai pun terpengaruh. Negara-negara dan pulau-pulau dengan luas wilayah kecil serta berada di sekitar lautan, perlahan-lahan akan kehilangan daratannya.

Tanaman pangan dan hutan pun dapat mengalami serangan serangga serta penyakit yang lebih hebat. Ini karena tidak kondusifnya curah hujan pada lahan pertanian di beberapa Negara.

Hewan dan tumbuhan kian sulit menghindar. Tumbuhan mengubah arah pertumbuhannya. Hewan-hewan akan bermigrasi ke arah kutub. Akan tetapi, tidak seluruh spesies mampu hidup di daerah kutub. Apalagi, luas daratan kutub semakin kecil dikarenakan mencairnya gunung-gunung es. Mengingat peranan manusia cukup dominan pada pemanasan global. Manusia menguasai mayoritas lahan untuk pembangunan. Tindakan tersebut mampu menghalangi perpindahan hewan-hewan malang itu. Kemungkinan terburuk, mereka tak mampu bertahan hidup dan akhirnya musnah.

Manusia perlu waspada. Pasalnya, dengan menghangatnya suhu dunia, maka akan lebih banyak manusia yang terkena penyakit atau meninggal. Mengapa? Karena penyakit tropis yang disebabkan oleh nyamuk akan bisa berpindah dengan cepat ke daerah dingin. Alergi dan penyakit pernafasan yang diderita manusia pun kian parah. Bagaimana tidak, udara yang hangat akan menghasilkan lebih banyak polutan maupun spora tumbuhan.

Perubahan wajah bumi juga masih menjadi topik bahasan menarik. Baik dari segi politik, sosial dan ekonomi. Bahkan sebagian besar, pemerintahan Negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi “Protokol Kyoto”. Protokol itu mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.

Serangkaian kejadian di atas seperti lingkaran hitam yang tak akan putus. Rumit dan komplek. Pemanasan global tak akan bisa dicegah di masa mendatang. Langkah terbaik yaitu bagaimana mencegah pemanasan global agar tidak menimbulkan efek yang lebih parah. Memperkecil peluang kerusakan bumi.

Kerusakan bumi mungkin mampu dikendalikan dengan melindungi daerah pantai dengan dinding dan penghalang untuk mencegah masuknya air laut. Alternatif lain adalah pemerintah dapat membantu populasi di pantai untuk pindah ke daerah yang lebih tinggi.