Catatan dari Bandung
Uncategorized September 24th, 2008Ku tulis curahan ini saat hari telah memasuki hitungan kedua kunjunganku ke Bandung. Sedari pagi buta, memang ku berniat untuk shoping. At least, door to door Factory Outlet di Bandung. Alhamdulillah kesampaian! Jam 10 aku samperin tukang ojek bernama Maman yang ku kenal sejak dia antarkan aku ke Griya kemarin. Dia pun mengerti maksudku sambil berujar, “Pergi kemana lagi sekarang atu, teh?” Khas Bandung sekali. Ku jawab, “Ke Riau aja, Mang!”
Melajulah motor supra X merahnya menelusuri kota Bandung. Cisadea, cilaki terus hingga jalan Martadinata. Inilah Riau! FO pertama yang aku kunjungi adalah HERITAGE. Atas rekomendasi Tania, aku pun memasukinya. Mang Maman ku minta menungguku. Dia pun bersedia. Ku itari penjuru HERITAGE. Beberapa item menarik untukku, tapi tunggu dulu, aku akan mencari yang sebanding di FO lain. Oops, ReNARITTI boleh juga. Masuklah diriku. Yup, Jaket model Girly Glamour hijau lumut menarik perhatian. Ku cobakan di badanku, pas! Got it! Seisi ReNARITTI ku obok-obok tapi beberapa masih menjulang langit harganya. Tapi, Alhamdulillah, tumpukan baju T-Shirt Mania Bandung (TMB) mampu membujukkau tuk mengaetnya. Tampaklah hati ini mulai bimbang. Bimbang lantaran desain lay out sablonannya yang aduhai. Honestly, kata-katanya memang komersial banget. Berbeda 180 derajat dengan Joger yang mampu mengolah kata-kata biasa namun lincah nan terpeleset untuk dijadikan displayer di kaos ataupun produk-produknya. What I have supposed to do? I bought some! At least, kenang-kenangan ku pernah ke Bandung. (Padahal yo sering banget!).
Warna cokelat ku beli di ReNARITTI. Kebiasaan sebuah pabrik kaos kata adalah sizenya yang kelewat-lewat alias over normal. Kaos yang ku beli pun bernomer 1 padahal itupun ku yakin masih tergolong besar dari ukuran normal. Alhasil, akupun harus menengok STAMP tuk memenuhi hasrat. Oops…
Aku berniat beli 3 potong. Aku kebagian. Adiz kupret juga. Nyit begitupun. Well, STAMP membuatku puas. Hitam, Hijau dan Cokelat. Selesai!
…
Beralih saja topik ini ke sebuah malam minggu. Sedari pagi sebenarnya merupakan sebuah antusiasme yang memuncak kala terdengar grapevine bahkan hendak ada one stop shopping di perjalanan kali ini. Alhamdulillah…
Benar saja, pagi-pagi rombongan GWG telah menginjakkan kaki ke Martadinata alias jalan Riau. Beberapa FO yang berjajar di sepanjang jalan tersebut cukup membuat bingung. Bukan aku saja, semua orang yang baru berkunjung pertama kali ke sana ku kira. Untunglah ku punya bekal hari pertama ketika ku putuskan “lari” dari penginapan. Lupakan! Dari sini, menuju pasar baru! Sadar akan sebuah jurang harga di depan mata, mau ga mau, aku harus jadi penawar harga yang ulung. Sekali waktu harus tegalah. Kendati ku tak sampai hati. Demi hasrat belanja dan atas nama uang yang semakin menipis. Itulah modalku di pasar ini.
Tempat ke tiga adalah Cihampelas. We went to Ci-Walk Mall. Hm..hm… seperti sutos-nya Surabaya menurutku. Bangunan minimalis berbalut nuansa modern. Tak besar namun tetap megah dan gemerlap!
Jam sudah lewat angka 7, hujan deras mengguyur Bandung. Aah, mumpung di Bandung dan ke sana kemari gratis, PVJ menjadi tujuan kemudian. Setauku, Paris van Java itu hanya julukan saja bagi Bandung, Subhanallah ternyata ada PVJ itu Mall. Dan bagiku PVJ adalah Mall terunik yang pernah kukunjungi. Rating lima deh! Simple, natural, opened, but boom!
Paris van Java! Paris van Java! Speechless!
Tidak selesai di situ, ternyata. Aku harus melanjutkan perjalanan ke ITB tuk mendengarkan hasil festival teman2 GWG. Alhamdulillah, ke kampus orang jam stgh 11 malam, lalu indera pendengaran ini bak tertiup angin surga. Guess what? GWG dapat medali perak. Beyond expectations!
Keesokan harinya, akhirnya aku ke gunung Tangkuban Perahu. Sayang berkabut. Tapi, salah kita juga ke Tangkuban jelang sang surya tenggelam. Jadi ya, buru-buru deh! Malamnya, aku sempat menjalankan tarawih di Masjid dkt penginapan. Maksud hati ke masjid Raya tapi tak punya banyak waktu dari Tangkuban. Selepas dari tarawih, aku mengajak teman-teman tuk melihat suasana Bandung menyambut hari-hari Ramadhan. Ku putuskan ke Masjid Raya, tapi kok sepi-sepi aja. Tak ada gemerlap Ramadhan. Sampai jam12. Tetap saja tak ada. Ya, makan bubur ketan hitam depan kantor walikota Bandung lalu kembali ke penginapan tuk bersiap sahur.
Dan esok tiba, kita berkemas, siap tuk kembali ke Surabaya. Sebelumnya ada waktu 5 jam tuk melanjutkan sesuatu yang tertunda dari teman2 dan aku. Belanja! Riau kelar lanjut ke Pasar Baru lewat BIP. Puas di Pasar Baru, rombongan di Masjid Raya menunggu. Di tengah perjalanan kembali ke Masjid Raya, Jojo mengalami musibah. Tasnya di sobek oleh penjambret dan dompetnya raib! Astaghfirullah…
Di penginapan suasana sedikit panik, Jo2 menjadi sentral perhatian sebab kejadian memilukan tadi. Tak lama, tiba ke stasiun tuk mengikuti kereta yang hendak membawaku kembali ke pangkuan kota tercinta. Sebelumnya, ku sempatkan ke Kartika Sari. Banyak pesanan roll keju dari keluarga. Tak lama, kami pun serombongan telah berada di kereta Mutiara Selatan. Siap menikmati pemandangan berjalan dari kaca kereta. Dan berharap segera tiba di kota tercinta…
Pukul 08.00 keesokan harinya, kamipun tiba di Gubeng dengan selamat. Alhamdulillah…
Someday, aku harus kembali ke Bandung dengan orang yang kusayangi. Tuk meleburkan segala cita-cita yang sempat terucapkan oleh hati di sepanjang kilometer perjalananku di Bandung tadi. Someday…
Beri Aku kesempatan, Ya Allah…
Bismilah…