<!–
/* Font Definitions */
@font-face
{font-family:Calibri;
mso-font-alt:"Century Gothic";
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:swiss;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}
@font-face
{font-family:Georgia;
panose-1:2 4 5 2 5 4 5 2 3 3;
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:roman;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:"";
margin-top:0cm;
margin-right:0cm;
margin-bottom:10.0pt;
margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:Calibri;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-ansi-language:IN;}
@page Section1
{size:595.3pt 841.9pt;
margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;
mso-header-margin:35.4pt;
mso-footer-margin:35.4pt;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
–>
Pemilihan media beriklan atau publikasi yang
dilakukan oleh seseorang, lembaga, intansi atau bahkan perusahaan adalah sekian
banyak dari faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemasaran (Marketing). Hal lain yang tidak kalah
pentingnya dalam menentukan efektifitas pemilihan media adalah motivasi dan
semangat enterpreneur yang dimiliki oleh penulis. Motivasi dan semangat
entrepreneur yang dimiliki oleh penulis juga sebagai penentu skala keberhasilan
terwujudnya sebuah cita-cita untuk mengkondisikan “Kampung Desain”.
Di Era yang
serba digital seperti sekarang ini, desain merupakan salah satu hal yang
happening di kalangan anak muda. Maksud penulis adalah sebagai creator desain
inovatif, futuristik dan dinamis. Namun, tak menutup kemungkinan yang sangat
besar untuk semua kalangan selalu berhubungan dengan desain dan digital
printing dalam hidup. Mengingat, teknologi dan komputer semakin berkembang
pesat. Software untuk desain pun kian berganti seri cepat. Corel Draw kini
mencapai X4, Photoshop cs3, Autocad 2009 dan sebagainya.
Sebagai
pengemar dan design maker, penulis
memotivasi diri untuk terus mengembangkan kemampuan dan keahlian dalam bidang
desain. Aplikasi sangat membantu penulis guna memberikan ide serta kreativitas
untuk menciptakan karya-karya yang inovatif. Beberapa kegiatan komersil dalam
desain grafis maupun non grafis kerap penulis jajaki. Dari mulai desain kartu
nama, pin, undangan, poster, banner,
kaos, stiker, lay out majalah, photo editing dan sebagainya; penulis
mengambil kesemuanya sebagai sarana pembelajaran. Tentunya, guna mendukung hal
tersebut, semangat entrepreneur dapat diterapkan sebagai perencanaan usaha berbasis
desain dan digital printing.
Entrepreneur
sendiri sebenarnya adalah bentuk kebebasan manusia dalam penentuan profesi yang
dimilikinya. Bukan memjadi pegawai ataupun eksekutif muda perkantoran.
Entrepreneur sangat nekat. Mereka adalah spekulator ulung, penuh inovasi dan
berani untuk thinking out of the box.
Modal
awal entrepreneur sebenarnya hanyalah
mimpi. Kekuatan mimpi akan membawa sang entrepreneur sukses apabila ide dari
mimpi tersebut semakin spesifik. Selagi menjadi seorang yang muda, layaknya
mitos yang berkembang bahwa orang muda itu tanpa beban; belum ada ikatan
penghasilan tetap; inovatif dan big dreaming;
penulis mencoba mencari dan memikirkan serta mempertimbangkan untuk menjadi
entrepereneur layaknya Ciputra dengan bisnis propertinya.
Hal-hal
yang membuat penulis jatuh cinta pada dunia entrepreneur adalah dikarenakan jam
kerja yang fleksibel, melakukan sesuatu yang digemari dengan penuh kemerdekaan,
tidak ada lagi intrik dan “politik” dari teman ataupun karyawan, berselancar di
antara gelombang mimpi dan yang terpenting adalah kita sebagai bos.
Tetapi
kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sedikit sekali generasi muda yang
bercita-cita menjadi enterpreneur. Penjajahan selama 350 tahun telah mengikis
semangat dan kecakapan entrepreneurial di sebagian besar bangsa Indonesia.
Pendidikan di Indonesia memiliki orientasi membentuk sumber daya manusia (SDM)
pencari pekerjaan, bukan pencipta lapangan pekerjaan.
Berbekal
kegemaran, kecintaan, kemampuan dan semangat berwira usaha; penulis merasakan
bahwa ke-4 hal tersebut merupakan modal awal guna terwujudnya “Kampung Desain”.
Selain dapat menciptakan lapangan pekerjaan melalui penyerapan tenaga kerja,
“Kampung Desain” juga diproyeksikan sebagai pusat desain dan percetakan
terbesar di Indonesia.
Asumsi
ide untuk jalur entrepreneur melalui kampung desain sangatlah simple but helpful. Pertama; jika
penulis mampu mewujudkan “Kampung Desain” melalui mimpi enterpreneur maka
merupakan satu bukti bahwa anak muda adalah generasi emas untuk mensejahterakan
bangsa. Kedua; menurut Landes, 1998, The
Wealth and proverty of developing countries has been linked in modern times to
the entrepreneurial nature of their economics. Secara tak langsung, jiwa
wira usaha mampu meningkatkan perekonomian bangsa yang sedang terpuruk. Asumsi
ke tiga; masalah pengangguran dapat teratasi lewat dibukanya lapangan pekerjaan
di “Kampung Desain”. Seperti yang dikatakan oleh Caroline Jenner (The Next
Generation Survey), “We cannot give them
jobs, but we can ensure that they have the core skills and competences to
create them.”
“Kampung
Desain” sendiri merupakan sebuah perkampungan kecil (Seperti sebuah ruko
ber-blok) yang di dalamnya terdapat fasilitas atau pun sarana prasarana lengkap
yang berhubungan dengan desain dari pre-design, proses produksi hingga pasca
design. Itu adalah sebuah step awal atau jangka pendek penulis terhadap mimpi
yang bersangkutan.
Segala
jenis desain dan digital printing ada
di sini. Macam indoor dan outdoor.
Dari desain sederhana seperti kartu nama hingga logo bahkan iklan. Segala macam
desain. Detail dan lengkap. Di kampung inilah, dibangun sederetan rumah dengan
fungsi masing-masing dan karakter yang berbeda. Contoh, pre-desain berarti mengonsep gambar atau tampilan, pemaknaan ide, lobbying dengan client tentang design;
penulis taruh pada rumah gedung putih. Lebih muda disebut gedung putih.
Untuk
produksi, sebut saja gedung kuning (karena di cat dominan kuning rumah
tersebut). Perlengkapan cetak, sudah tersedia. Hanya jenis cetakan dan mesinnya
di klasifikasi dalam ruang berbeda guna spesifikasi dan efektifitas kesehatan
serta tenaga karyawan. Pasca produksi adalah tempat terakhir sebelum barang
tersebut di serahkan ke konsumen. Bisa disebut dengan main office. Di sinilah pasar sesungguhnya. Maksudnya adalah
terjadinya transaksi jual beli. Tukar menukar antara uang dan barang. Sebagai
penanda, main office beri saja warna
biru untuk dinding rumah. Alasan penulis, biru adalah tentram dan damai. Semoga
konsumen dan “pedagang” menemui kedamaian dan ketentraman dalam bertransaksi.
Tema
yang diusung penulis adalah one stop shopping as like mall. Segala kebutuhan,
macam dan peralatan serta perlengkapan desain dan digital printing ada di
“Kampung Desain”. Pelayanan juga 24 jam selama 7 hari seminggu. Dilengkapi
layanan tunggu dengan ruang khusus yang nyaman di gedung biru (Pasca produksi).
Secara
visioner, target jangka panjang adalah membuka cabang terbatas hanya di
beberapa daerah besar di Indonesia. Sumatera ada 3 titik; yaitu Medan, Batam
dan Palembang. Jawa 2 titik; Jakarta dan Surabaya. Kalimantan 2 titik;
Banjarmasin dan Samarinda. Sulawesi 2 titik; Makasar dan Palu. Maluku 2 titik;
Ambon dan Gorontalo. Papua 1 titik di Jayapura. Nusa Tenggara 2 titik; Denpasar
serta Mataram.
Selain
itu, “Kampung Desain” mempunyai kemungkinan untuk berkembang menjadi ladang
bisnis yang besar dan lebar. Ketika urusan desain telah menjadi hal yang kecil
dan biasa, tak ada salah apabila mengepakkan sayap ke bidang agency
advertising. Tempat kursus atau bahkan ada sekolah desain bernama “Kampung
Desain plus” yang orientasinya desain grafis dan entrepreneur dari tingkat Play
Group sampai Universitas seperti Ciputra.
Mungkin
perpustakaan umum tentang desain. Lebih pretisius apabila didirikan supermarket
khusus melayani kebutuhan komputer dan desain grafis. Little Hi-Tech semacam begitu. Tak lupa untuk membangun food court sebagai tempat hakiki bagi
perut yang keroncongan. Juga parking area
dengan sistem card detector. Subhanallah…