Tiga Pemilu Berbingkai Sejarah
Uncategorized 3 Comments »Dalam sepekan ini, ku diterpa oleh angin demokrasi yang begitu kuat dan kencang. Begitu dashyatnya, sehingga ku dapati 3 (Tiga) sekaligus. Di minggu pertama, di hari ke-4, bulan 11 (baca: November), ku menyalurkan hak suara di TPS 5 kelurahan Sekardangan. Memilih antara 2 pilihan. Alhamdulillah, coblos mak bless! Keesokkan harinya, hari ke-5, ku aktif mengikuti perhitungan suara Pemilu Amerika Serikat. Minggu ke-2 ini pada hari ke-11, ku menjalankan tugasku sebagai mahasiswa dengan melubangi (baca: Coblos) kertas suara dalam Pemilihan Rektor bagi kampus tercinta. Ke-3 Pemilihan Umum yang ku jalani tersebut di atas, memiliki keunikan masing-masing yang sangat ku yakini merupakan sebuah sejarah. Yup, sejarah yang kelak menjadi saksi bisu bagi generasi setelah ini. Sejarah yang akan menjadi jendela bagi generasi kini untuk melenggang ke masa depan. Sejarah yang tak ‘kan pernah berbohong bagaimana masa lalu mampu menjadi koreksi yang paling otentik untuk sebuah kebenaran hakiki yang selalu di cari. Singkat kata, Sejarah ini kini terukir…
PEMILU JAWA TIMUR
Putaran ke-2 berlangsung sengit. Bagaikan sebuah balap Formula 1 di sirkuit Silverstone-Inggris. Sirkuit Silverstone rentan terhadap salip menyalip atau over taking dan over laping antar pembalap. Sirkuit ini pula merupakan sirkuit strategis bagi kebanyakan tim balap Formula 1. Dikarenakan rata-rata tim balap F1 home base-nya di sini. Kaitannya dengan Pilkada putaran ke-2 Jatim kali ini yaitu kejar-mengejar antar Calon Gubernur dan pasangan masing-masing. Dan sirkuitnya adalah Jawa Timur. Jawa Timur adalah Silverstone-nya Indonesia. Banyak pemimpin besar lahir di sini. Basis Massa luar biasa membludak di sini. Arus Industri dan Perdagangan mengalir tiada henti. Sejarah Indonesia juga pernah terukir dari sini, di hotel Majapahit. Jembatan Merah. Apa yang kurang? Begitu pun Silverstone.
Pilkada di Indonesia kebanyakan hanya terjadi sekali waktu dalam kurun 5 tahun pasca digencarkan otonomi daerah. Alias satu putaran. Ajaib untuk Jawa Timur. Pilkada kali ini “laku” oleh 5 pasang bakal calon. Akhirnya, Pasangan Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (Kaji) dan Soekarwo-Syaifullah Yusuf (Karsa) memperoleh suara beda tipis. Oleh sebab itu, putaran ke-2 diselenggarakan. Sejarah tersendiri bagi Indonesia dari Jawa Timur. Sejarah!
Pelaksanaan putaran ke-2 pun usai. Perhitungan dimulai. Secara Quick Count, Lembaga Survey Indonesia mendapati hasil Kaji menang atas Karsa dengan selisih kurang lebih 0,sekian % saja. Fenomena baru! Sengit! Namun, LSI pun konon yang terpecaya, oleh Jawa Timur belum sepenuhnya. Alasan klise, toleransi kesalahan 1%. Angka yang lebih besar ketimbang selisih perolehan suara ke-2 belah pihak calon Pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur. Fenomena lagi!
Kepastian itu ditunggu. Menginjak hari ke-11 November, KPUD menggelar perhitungan ulang di hotel Mercure-Surabaya. KPUD putuskan Karsa pemenangnya. Lagi-lagi itu belum cukup! Fenomena! Dan Sejarah!
Masing-masing tim pemenangan kedua calon punya bukti tentang jagoannya lah yang menang. Tim Pemenagan Karsa, membuka angka 0,39 % sebagai angka keunggulan mereka dibanding Kaji. Di pihak lain, pihak Kaji meng-klaim ada 0,12 % suara yang diberikan kepada Kaji lebih besar daripada Karsa. Who’s the right? Bingung! Fenomena!
Siapapun pemenangnya kelak? Dialah yang akan melengkapi sejarah pilkada di Jawa Timur. Kaji atau Karsa? KPUD, keputusan di tanganmu!
PEMILU AMERIKA SERIKAT
Fenomena berbeda kita jumpai pada Pemilu AS kali ini. Demokrasi Liberal AS dilaksanakan tahun ini guna mencari Presiden ke-44 yang akan menggantikan George Walker Bush Jr. yang akan “angkat koper” dari White House akhir tahun ini. Senator Illinois yang meroket kencang pasca pencalonan Mantan Calon Presiden John Kerry (dari Partai Demokrat) pada Pemilu 2004 (Yang dimenangkan oleh George W. Bush Jr.) membuat Sejarah Besar bagi Negeri Paman Sam tersebut. Barack Husein Obama Jr. menjelma bak Superman bagi rakyat AS yang sedang berjuang keluar dari kemelut krisis. Obama dgn segala keunikannya (berasal dari multi-ras, muda Berjaya dan sebagaimana tersebut di atas) melawan Veteran Perang Vietnam asal Arizona (dari Partai Republik-nya Bush Jr.) John McCain. Untuk sebuah paradigma konservatif, boleh ku bilang silahkan Anda pro dengan McCain yang lebih kenyang asam manis berjuang untuk AS. Namun, dengan kondisi AS kini, futurism merupakan jawaban tepat (untuk rakyat AS yang secara mental spt itu) dengan pemilihan Anda kepada Obama. Change, We Believe In!
Obama di atas angin. Jauh terbang meninggalkan McCain. Electoral Vote menyakinkan memperlihatkan angka 349 berbanding 162 untuk McCain. Angka itu juga sangat jauh dari angka minimal untuk sebuah kemenangan. Angka tersebut 270. Kita katakana saja, Obama menang telak. Change, We Believe In!
Obama menjadi Presiden AS ke-44 dengan dibingkai oleh Sejarah. Sejak Era George Washington hingga George Bush Jr, tak pernah ada Presiden AS multi ras. Apalagi Obama sudah mengklaim diri bahwa dia adalah golongan berwarna. Ibu Amerika, Ayah Kenya-Afrika. Lengkap sudah! Sebagai Negara liberal AS sangat multi ras. Multikultural! Namun, masih ada kelas secara tak ketara. Kendati pun Abraham Lincoln (Presiden ke-16) sudah menghapus perbudakan terhadap kaum kulit berwarna, tetap saja belum terhapus 100% dari liberalisasi AS.
Change, We Believe In!
Euforia Obama memang mampu menguak banyak sejarah. Sederhananya, sebuah sejarah Obama kecil di Indonesia menjadi sorotan terdekat bagi bangsa Indonesia. Dari mulai Adik Tirinya di Lampung angkat bicara, sepupu tirinya dari Jakarta pun begitu, Gurunya di SDN Menteng pula hingga teman-teman masa sekolah dasar si Barry Soetoro a.k.a Barack Obama. Semua berbicara atas nama: PRIDE!
Sang Presiden terpilih AS ini sempat merasakan bagaimana harum tanah Indonesia karena sang Ibu menikah dengan pria Asli Indonesia, Lolo Soetoro dan mengajaknya tinggal di Jakarta. Masa kecil Obama itulah yang merupakan sebuah sejarah bagi Indonesia. Seorang Presiden Muda yang Multikultural dan Fenomenal Negeri Adidaya di Dunia dengan kemenangan telak pernah tinggal di Indonesia selama 4 tahun. Luar Biasa!
Bukan hanya bagi Indonesia. Terlebih bagi AS, ini merupakan babak baru dari sebuah era kebangkitan yang ditawarkan Presiden Fenomenal Baru mereka. Dunia tercengang! Tentu saja! Boleh jadi ini merupakan sebuah sejarah yang hanya bisa terulang 1 Abad mendatang. Tak bisa dipungkiri bahwa tak ‘kan ada Obama II atau Obama III layaknya di Negara-negara Monarki.
He’s the One and Only to the World! Change, We Believe In!
PEMILU UPN “VETERAN” JAWA TIMUR
Kaum Intelek di kampus pun merasakan jua atmosfir demokrasi. Rektor lama, Warsito SH, telah turun tahta dan menyerahkan kursi tingginya sementara kepada Djoko Purnomo yang menjabat sebagai Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan. Alasannya pun klise, kedua Wakil Rektor lainnya (Wakil Rektor I: Prof. Dr. Djohan Mashudi dan Wakil Rektor II: HM. Ibnu Hadjar, SH, MM) mencalonkan diri sebagai calon Rektor periode mendatang.
Kasak-kusuk Plirek pun dimulai. Ketiga calon terpampang jelas di spanduk dan banner tiap Fakultas. Calon nomer 1: Prof. Dr. Djohan Mashudi, calon nomer 2: HM. Ibnu Hadjar, SH.MM, calon ke-3: Dr. Ir. Teguh Soedarto. Sangat Berimbang. Calon ke-3 adalah ketua LPPM UPN “Veteran” Jawa Timur.
Kampanye, usai! Minggu tenang! Tepat tanggal 11 November 2008, pukul 08.00 WIB, pencoblosan di mulai. Bertempat di Gedung Serba Guna Giri Loka, seluruh eleman kampus (kecuali mahasiswa yang hanya diwakili 113 suara) menyalurkan hak pilihnya. Bagi mahasiswa, hak penuh hanya diberikan kepada Ormawa dan UKM. Itu pun 2 orang tiap UKM dan Ormawa. Ketua dan Sekretaris. Selesai!
Boleh dibilang, lancar lah Pilrek kali ini. Hanya ketika proses perhitungan suara dilakukan, angka yang cukup fantastis di dapat. Di luar prediksi! Dari 687 suara yang terdaftar, yang menyalurkan hak suaranya sebanyak 658 saja. 29 orang sisanya, pantas dibilang golongan putih.
Untuk para kandidat, selama proses perhitungan adalah saat yang mendebarkan. Akhirnya di dapati 192 suara untuk Pak Djohan, 61 suara untuk Pak Ibnu dan 198 suara untuk Pak Teguh.
Teliti! Siapa rektor selanjutnya? Pendukung Pak Teguh silahkan bersorak gembira. Tapi ada yang aneh. 192+61+198=451 hanya 451. Kemana 207 lainnya. Ironis sekali! 5 suara dinyatakan abstain. Menjengkelkan! Punya hak tidak dipergunakan dengan baik. 202 tersisa merupakan angka yang cukup memprihatinkan untuk ukuran demokrasi dengan subyek ketidaksyahan surat suara. Hm, surat suara yang telah mereka coblos ternyata menembus bagian belakang dari kertas suara. Sehingga terdapat 2 lubang pada satui kertas. Alhasil tidak syah. Astaghfirullah, sayang sekali. Demokrasi di kampus sedikit tercederai oleh insiden yang seharusnya tak perlu terjadi itu. Sebagai orang yang terlibat di dalam, ku merasa bahwa tidak adanya sosialisasi hingga turun ke bawah dari PPR yang menyebabkan hal ini terjadi. Namun, sisi lain, mengindikasi bahwa terburu-burunya pemilih ketika memasuki bilik suara sehingga membuat pemilih tidak teliti. Itu terjadi lantaran 2 hal, pertama: kampus tidak meliburkan proses belajar mengajar, bisa jadi para pengajar atau mahasiswa hanya ijin sebentar untuk datang coblos lalu kembali ke kelas dengan tergesa-tega. Kedua: dari pintu masuk TPS, pemilih telah diberi kotak snack. Ini merupakan sebuah bentuk kebingungan/kegopohan pemilih terhadap barang bawaannya. Lebih bijak, apabila kotak snack diberikan setelah pemilih keluar dari pintu TPS.
Ya! Itulah peristiwa yang bisa dikategorikan sebagai sejarah. Namun sejarah yang sesungguhnya adalah torehan Pak Teguh sebagai Seorang Sipil Pertama alias Non Militer yang menjadi Rektor UPN “Veteran” Jawa Timur. Ckckckck…
***
Sejarah itu tak dapat diprediksi darimana, kapan, dan bagaimana mereka terukir. Karena tiap waktu yang kita jalani, sangat berpotensi menjadi SEJARAH itu sendiri.
